Q&A

05.58

Haloo! 

Berhubung hari libur, i want to answer a few questions (kali ini serius jawabnya makanya ampe di blog haha) So here it is! 


Ini sesuai preferensi masing-masing. Ada yang perlu ikut bimbel, ada yang bisa belajar sendiri. Kalau aku, karena bukan orang jenius, aku tipikal yang perlu bimbingan biar jelas arah belajarnya kemana dan butuh tempat untuk bertanya. 


Sehingga aku ikut 3 bimbel.


Yang pertama: iPass. 

Ini bimbel untuk materi PPDS dan SIMAK. Sebagai orang yang belajarnya harus tersusun, aku merasa need help dari jauh-jauh hari. Kalau belajar sendiri pasti berantakan dan bingung harus mulai dari mana. Sehingga aku ikut bimbel ini 1 tahun sebelum daftar.. dan bener-bener worth it. Selain materi untuk PPDS, di iPass juga ajarin materi SIMAK, TOEFL, dan wawancara. 


Yang kedua: Papyrus

Ini bimbel khusus untuk SIMAK. Aku ikut kelas umumnya sekitar 6 bulan sebelum daftar. Terus lebih intens lagi, aku ikut kelas private 2 bulan sampai H-1 minggu ujian. Bener-bener yang latihan tryout tiap hari. Deg-degannya kerasa karena SIMAK ini adalah gerbang utamanya, karena kalau gak lulus SIMAK, walaupun yang lain lulus, jadi gak bermakna.


Yang ketiga: PADI

Ini bimbel untuk materi PPDS. Aku ikut ini sekitar 3 bulan sebelum daftar. Aku ikut lagi untuk review materi dan lebih mendalami ilmu tentang anak biar makin pede jawab soal ujian. Ini bener-bener membantu banget dan bikin konsisten latihan soal tiap hari juga. 





Aku dari dulu suka belajar tentang anak karena jelas harus belajar darimana, kita gak bingung cari sourcenya. 


Kalau terkait definisi dan patofisiologi: Nelson Pediatric dan Buku Ajar IDAI adalah tempatnya.


Kalau tatalaksana: Konsensus, PPM IDAI, dan update dari seminar/simposium. 


Itu aja dulu kalau mau daftar PPDS, tidak usah muluk-muluk. Sebagai contoh, coba deh search di google: Konsensus Kejang Demam IDAI. Ada kan? Mudah asal mau mencari.



Yang jelas ekstrakurikuler akademik. Aku rekomen klub bahasa inggris yang bisa bikin kamu ikut berbagai macam lomba sekaligus memperdalam keinggrisan (apadeh keinggrisan). 


Olimpiade fisika, matematika, biologi, oke bangeet.


Intinya, dalami ekstrakurikuler tersebut, sehingga kamu bisa memenangkan lomba! Karena menang lomba akademik itu jadi nilai plus buat keterima kedokteran (plus mempermudah kehidupan kamu juga saat keterima, terutama matematika). Yah walaupun saat ini ilmu berhitung banyak menguap, dan tampaknya lebih pinter matematika saat SMA dibandingkan sekarang, setidaknya sangat membantu kehidupan ini yang banyak berkutat dengan dosis dan perhitungan yang menjadi makanan sehari-hari.



Tahun pertama itu masa penyesuaian dan adaptasi.


Semester 1: Tahap Pengayaan


Di tahap ini kita belum berinteraksi dengan pasien, murni belajar saja.


Di tingkat fakultas, kita akan kuliah bareng sama seluruh PPDS semester 1, mendalami terkait materi dasar yang harus dikuasai oleh seorang PPDS. Terkait penelitian, etik, filsafat, dan hukum kedokteran. 


Selain itu, dari dalam prodi, diberikan materi dari seluruh divisi IKA. Bener-bener definisi pengayaan: diberikan kekayaan ilmu sebelum memasuki dunia PPDS.


Disini juga akan ada jaga ikutan selama 2 bulan terakhir disertai tentiran senior. Disiapkan dengan matang sebelum terjun ke pasien secara langsung.


Semester 2: Tahap Junior


Nah ini dia, masa adaptasi yang bener-bener mengagetkan. Tahap Junior itu sulit karena kita banyak gak taunya (meskipun sudah banyak di spill dengan jaga ikutan dan tentiran senior). It’s hard because it’s unfamiliar. Di tahap ini, kita belajar mengikuti pace IKA, mulai dari follow upnya, kerjanya, jaganya, ilmiahnya, hingga tanggung jawabnya.



Hiks, dulu aku rangkaian skincare routine aku lumayan panjang. Semenjak PPDS, penggunaan skincare bener-bener minimalis. Yang penting cuma cuci muka + pakai moisturizer. 


Face wash aku dengan Skintific Ectoin Essence, terus moisturizer dengan Skintific MSH Niacinamide. Udah itu aja. Kalau sempet, pake serumnya, kalau sempet, pakai sunscreen Anessa. 


Tapi lebih banyak gak sempetnya. Hahaha maaf banget, tanya lagi kalau aku kelar PPDS ya, inshaAllah lebih informatif.



Waktu aku ikut latihan wawancara, ada satu kalimat yang aku ingat banget:


“Mereka itu mau menerima orang yang menyenangkan.”


Dan itu bener-bener merubah sikap aku yang awalnya selama latihan wawancara tampak tegang dan kaku, menjadi lebih relaks.


Gak harus yang gimana-gimana, yang penting jadi dirimu sendiri aja. Banyakin senyum (biasanya deg-degan bikin lupa senyum kan? wkwkwk).



Hmm jujurly kurang tau jumlahnya.

Tetapi saran aku, gak usah fokus terhadap berapa yang daftar dan siapa saingan kamu. Fokus sama diri kamu sendiri aja, belajar maksimal, penuhi persyaratan dengan maksimal. Karena setau aku, banyak atau sedikitnya pendaftar, tidak akan merubah rejeki kamu… Bismillah semangat ya! 🩷



Aku ramal.. Ade habis makan wortel atau labu ya? 

Kalau banyak biasanya bisa bikin tampak kuning di telapak tangan dan kaki. Selama gak ada tanda bahaya lain, gapapa. Aman 🤗 Kenalin sayur yang bervariasi warnanya ya, Ma. 


Banyak yang berkesan sampai bingung pilih yang mana.

Tapi karena fresh habis lewat Madya Perina,
melihat Mama Papa yang selalu datang ke NICU, 
berbicara dengan aku dengan mata yang berkaca-kaca,
menatap si ade di balik inkubator dengan mata yang penuh harapan, 
seakan menembus hingga belasan tahun ke depan,
so it’s Perina.


Sudah dijawab dengan pertanyaan yang sama diatas ya. Makasih banyak 🥰


Wkwkwkwk kak 😭🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Selama PPDS harus ikhlas beberapa hal harus di delegasikan.
Aku mending menggunakan porsi waktu mencuci baju itu untuk tidur. Hidup ini sudah susah kak, jangan dibuat tambah susah izin 🙏🏻🙏🏻 Laundry aja kak, lebih murah dibanding biaya tumbang akibat encok 🙏🏻


Pertanyaannya sama jadi aku gabung yah.

Lebih prefer Prodi A.

Karena apa? 

Percayalah, saat menjalani PPDS, semua alasanmu ingin menjadi PPDS tersebut, gugur kecuali satu hal: karena suka ilmunya.

Gak ada satupun alasan yang bisa buat kamu terjaga lebih dari 24 jam, capek yang tidak terdeskripsikan, selain karena kamu suka ilmunya.

Kenapa gak Prodi B yang work life balance terjamin? Karena kamu gak suka ilmunya.

Pilihan PPDS ini menentukan kehidupan kamu kedepannya. Yakin menjalani sisa waktu hidup ini mendalami ilmu yang gak kamu suka-suka amat, hanya karena gak mau jaga malam misalnya? 

Pilih prodi karena passion itu adalah real. You have to have that spark. Get excited about it. P.s itu juga yang bikin kamu semangat buat ikut seminar/simposium, bikin karya ilmiah. So apapun persyaratannya, kamu gak merasa beban mengerjakannya. 













post signature