Q&A edisi 2

11.08

Jujurly setelah melihat tampilan blog aku di komputer (bikin postingan sebelumnya lewat Hp)
Aku jadi menyesal menjawab pertanyaan disini hahaha ini gambar pertanyaannya bener-bener gak bisa dikecilin, di edit jadi small eh malah yang terposting resolusinya yang burem. Ya udahlah, kita lanjut aja. Artinya bener-bener harus serius dan lebih sering posting di blog... Wkwkwk

Here we go



   I will recommend these:
1. Outliers by Malcolm Gladwell
Tidak henti-hentinya saya merekomendasikan buku ini kepada semua orang. Tolong setidaknya 1 kali seumur hidup baca buku ini. Kalau yang dimaksud kamu quarter life crisis terkait kehidupan pekerjaan, mimpi, dan cita-cita. This is it. 

2. Lembaga Hidup by Buka Hamka
Definisi di nasehatin terkait hidup. Sebenarnya ini terdiri dari 4 buku mutiara falsafah, tapi dari semuanya yang patut di baca banget adalah ini. As you search for life.

3. La Tahzan by Dr. Aid al-Qarni
Apapun yang kamu rasakan, masalah yang kamu hadapi, tinggal cari aja disini. Daftar halamannya aja sepanjang jalan kenangan. Setelah membacanya, dijamin hati mu bakal lebih tenang. 


Kalau terkait jaga, ada tim jadwal yang mengurusnya. Diperhitungkan dengan matang dan ada slot-slotnya gitu. Jadi gak bisa dipatok sebulan jaga berapa kali. Yang jelas rangenya 2-3 kali seminggu. 

Sebenarnya, kalau ada yang nanya, "Kak, harus ini gak?" "Harus itu gak?"
Aku gak bisa bilang harus.
Bcs "harus" is actually a strong word. 
Harus adalah mengikuti persyaratan sesuai fakultas, yang tertulis, dan resmi. Tapi kalau diluar itu, gak ada yang mewajibkan kamu untuk ikut. Kalau ikut? Bagus. Kalau engga? Ya berarti tidak lebih dibanding yang lain. 
Kalau PMR sendiri, aku gak pernah ikut. 
Jadi, apakah itu wajib?
.....


Ini pertanyaannya jujur sangat random sekali ya mulai dari buku, kehidupan ppds, masuk kedokteran, hingga suami. Berapa kali aku open Q&A, selalu ada yang menanyakan begini. 

Basically, suami aku sudah tertulis di Lauhul mahfudz. 
Tapi tiap berdoa intinya yang bisa mengerti aja. 
Yang bisa memimpin saya yang hidup independen abal-abal ini (baru merasakan merantau hikseu).
Yang bisa jadi penenang pada api yang tak kunjung padam. 
Yang mengerti kalau ada kehidupan setelah mati. 
Yang bukan silent treatment (very traumatic).
Yang tingginya lebih tentu saja.
Yang bisa paham juga kalau aku gak bisa cuci piring dan bersih-bersih, tolong banget ya beli dishwasher atau apapun yang memudahkan kehidupan rumah tangga.  
Semakin gak jelas mohon maaf ini nulisnya udah seserius mungkin. 

Sepertinya ini pertanyaan lanjutan dari atas 

Jujurly kak, sudah trauma sama yang bukan dokter, hahahaha
Gimana yah jelasinnya. Hidup itu sudah pusing kak, capek banget kalau pulang harus menjelaskan unek-unek tapi harus mentranslate dulu, apalagi kalau tidak mengerti dan tidak mau mengerti. 

Sama yang sesama dokter aja kadang masih gak nyambung...
Jadi begitulah kak, bingung kan. Sama, bingung juga saya...
Ya meskipun gak tau orangnya siapa sampai sekarang.... Yang jelas percaya aja sudah di Lauhul mahfudz. 

Terkait harus engganya, sudah aku bahas diatas. 

But if you aim for what's big, your effort must bigger, right?
Jadi, bikin aja publikasi. Gak ada yang bilang harus apa engganya, tapi bikin itu sebuah keharusan untuk dirimu sendiri.

Boleh liat list publikasi dan ilmiah aku di google scholar.

Waktu aku lebih dari 1 jam. Pertanyaannya lumayan banyak, tentang diri aku secara pribadi, keluarga, pendidikan, dan rencana kedepan. Let it flow aja kak, karena bener-bener kayak ngobrol. Gak usah dibuat-buat karena konsulen itu sudah bertemu dengan banyak orang dan mereka tau psikologis kita.

1. Kalkulator
2. Drug dose
3. UpToDate
4. PedZ
5. MDCalc
6. Pocket Infusion
7. Camera: cekrek cekrek terhadap semua hal yang ditemui


Waktu hanya 24 jam. Kebetulan berkali-kali berdoa minta lebih dari 24 jam, belum dikabulkan oleh Allah. Sehingga memang banyak yang dikorbankan. Contohnya tidur. 

Sama kayak pertanyaan diatas, boleh search aja google scholar atas nama aku.



Sama yah inii dengan diatas
Dijalani saja kak. Kalau begadang karena nonton TV atau baca buku kan emang bisa ngantuk kak. Tapi kalau begadangnya karena ada anak yang sesak napas dan penurunan kesadaran, gimana? Auto melek kan mata. Jadi begitu kak, memang banyak hal yang kita korbankan di dunia ini. Kalau keteteran, semua orang keteteran pada awalnya. It's called adaptation. Nanti lama-lama, akan terbiasa. (berbicara dari pengalaman, serius)

Nah kalau ini coba tanya ke dokter yang bisa periksa langsung ya. 



Kalau ini aku sebelum PPDS, akan kujabarkan tips-tips itu. 
Tetapi PPDS ini belajarnya tidak sesuai standar yang kutetapkan untuk diriku sendiri, hahaha
Jadi sejauh ini belum bisa kasih tips yang gimana-gimana. 
Jujurly terbantu banget sih sebenarnya sama catatan aku pre-PPDS. 
Belajar SIMAK UI nyicil dari sekarang. Waktu internship selama 1 tahun, kerjaan aku mendem di kamar fokus belajar SIMAK. Jadi waktu udah deket bulan mau
H test, belajar SIMAK buat review aja, udah gak panik lagi. 


Sama dengan diatas. Tapi aku waktu iship: ikut seminar dan simposium tentang anak. Kemudian ikut ResNeo juga waktu iship (lebih dulu daripada ACLS malah wkwkwk)

Mulai dari kamu. Maunya kapan? Kalau aku, persiapannya sejak keterima kedokteran. Karena gelar dokter umum sudah pasti di tangan, plan aku selanjutnya mengejar agar bisa mengambil spesialis anak. Sehingga belajar banget di modul anak, kemudian ambil skripsi tentang anak, banyakin penelitian, dst.
Tentu saja, ada masanya nangis tersedu-sedu di mobil. Bukan karena apa, tapi murni capek aja. Cara ngatasinnya: lakukan kegiatan yang aku suka. Aku suka nonton drama, jadi aku nonton (meskipun pada akhirnya komputer nanti nonton aku). Aku suka baca buku, jadi aku baca buku. Aku suka nulis, jadi aku nulis (termasuk menulis ini). Lakukan yang kamu suka. 

Sekarang jadi beralih di laptop semua kak. Karena buku gak bisa kita bawa terus menerus. Sehingga semua catatan ada di laptop.
Nanti catatan warna warni itu akan hadir kembali menjelang Evaluasi Nasional (aamiin ya rabbal alamin) bismillah doain semoga cepat kelar ya <3

Wkwkwk kalau versi serius dari jawaban pertanyaan ini...
Ada satu hal yang pengen aku delegasikan tapi gak bisa:
Pengen di supirin. Huhuhu
Pulang pergi sambil nyetir itu PR banget sih hahaha
Andaikan bisa disetirin.


Kalau H-1 bulan sih mending banyak-banyak berdoa kak. 
Udah bukan saatnya belajar huru-hara lagi...
Review materi lucu-lucu aja...
Sama banyak-banyak minta maaf ke kedua orangtua, minta ridhonya, banyak-banyak bermunajat kepada Allah...





ALHAMDULILLAH 
Lunas sudah menjawab pertanyaan ini hahaha
Maafkan atas keterlambatannya. Namanya juga pipidies. 
Sekian terima kasih.




post signature

Q&A

05.58

Haloo! 

Berhubung hari libur, i want to answer a few questions (kali ini serius jawabnya makanya ampe di blog haha) So here it is! 


Ini sesuai preferensi masing-masing. Ada yang perlu ikut bimbel, ada yang bisa belajar sendiri. Kalau aku, karena bukan orang jenius, aku tipikal yang perlu bimbingan biar jelas arah belajarnya kemana dan butuh tempat untuk bertanya. 


Sehingga aku ikut 3 bimbel.


Yang pertama: iPass. 

Ini bimbel untuk materi PPDS dan SIMAK. Sebagai orang yang belajarnya harus tersusun, aku merasa need help dari jauh-jauh hari. Kalau belajar sendiri pasti berantakan dan bingung harus mulai dari mana. Sehingga aku ikut bimbel ini 1 tahun sebelum daftar.. dan bener-bener worth it. Selain materi untuk PPDS, di iPass juga ajarin materi SIMAK, TOEFL, dan wawancara. 


Yang kedua: Papyrus

Ini bimbel khusus untuk SIMAK. Aku ikut kelas umumnya sekitar 6 bulan sebelum daftar. Terus lebih intens lagi, aku ikut kelas private 2 bulan sampai H-1 minggu ujian. Bener-bener yang latihan tryout tiap hari. Deg-degannya kerasa karena SIMAK ini adalah gerbang utamanya, karena kalau gak lulus SIMAK, walaupun yang lain lulus, jadi gak bermakna.


Yang ketiga: PADI

Ini bimbel untuk materi PPDS. Aku ikut ini sekitar 3 bulan sebelum daftar. Aku ikut lagi untuk review materi dan lebih mendalami ilmu tentang anak biar makin pede jawab soal ujian. Ini bener-bener membantu banget dan bikin konsisten latihan soal tiap hari juga. 





Aku dari dulu suka belajar tentang anak karena jelas harus belajar darimana, kita gak bingung cari sourcenya. 


Kalau terkait definisi dan patofisiologi: Nelson Pediatric dan Buku Ajar IDAI adalah tempatnya.


Kalau tatalaksana: Konsensus, PPM IDAI, dan update dari seminar/simposium. 


Itu aja dulu kalau mau daftar PPDS, tidak usah muluk-muluk. Sebagai contoh, coba deh search di google: Konsensus Kejang Demam IDAI. Ada kan? Mudah asal mau mencari.



Yang jelas ekstrakurikuler akademik. Aku rekomen klub bahasa inggris yang bisa bikin kamu ikut berbagai macam lomba sekaligus memperdalam keinggrisan (apadeh keinggrisan). 


Olimpiade fisika, matematika, biologi, oke bangeet.


Intinya, dalami ekstrakurikuler tersebut, sehingga kamu bisa memenangkan lomba! Karena menang lomba akademik itu jadi nilai plus buat keterima kedokteran (plus mempermudah kehidupan kamu juga saat keterima, terutama matematika). Yah walaupun saat ini ilmu berhitung banyak menguap, dan tampaknya lebih pinter matematika saat SMA dibandingkan sekarang, setidaknya sangat membantu kehidupan ini yang banyak berkutat dengan dosis dan perhitungan yang menjadi makanan sehari-hari.



Tahun pertama itu masa penyesuaian dan adaptasi.


Semester 1: Tahap Pengayaan


Di tahap ini kita belum berinteraksi dengan pasien, murni belajar saja.


Di tingkat fakultas, kita akan kuliah bareng sama seluruh PPDS semester 1, mendalami terkait materi dasar yang harus dikuasai oleh seorang PPDS. Terkait penelitian, etik, filsafat, dan hukum kedokteran. 


Selain itu, dari dalam prodi, diberikan materi dari seluruh divisi IKA. Bener-bener definisi pengayaan: diberikan kekayaan ilmu sebelum memasuki dunia PPDS.


Disini juga akan ada jaga ikutan selama 2 bulan terakhir disertai tentiran senior. Disiapkan dengan matang sebelum terjun ke pasien secara langsung.


Semester 2: Tahap Junior


Nah ini dia, masa adaptasi yang bener-bener mengagetkan. Tahap Junior itu sulit karena kita banyak gak taunya (meskipun sudah banyak di spill dengan jaga ikutan dan tentiran senior). It’s hard because it’s unfamiliar. Di tahap ini, kita belajar mengikuti pace IKA, mulai dari follow upnya, kerjanya, jaganya, ilmiahnya, hingga tanggung jawabnya.



Hiks, dulu aku rangkaian skincare routine aku lumayan panjang. Semenjak PPDS, penggunaan skincare bener-bener minimalis. Yang penting cuma cuci muka + pakai moisturizer. 


Face wash aku dengan Skintific Ectoin Essence, terus moisturizer dengan Skintific MSH Niacinamide. Udah itu aja. Kalau sempet, pake serumnya, kalau sempet, pakai sunscreen Anessa. 


Tapi lebih banyak gak sempetnya. Hahaha maaf banget, tanya lagi kalau aku kelar PPDS ya, inshaAllah lebih informatif.



Waktu aku ikut latihan wawancara, ada satu kalimat yang aku ingat banget:


“Mereka itu mau menerima orang yang menyenangkan.”


Dan itu bener-bener merubah sikap aku yang awalnya selama latihan wawancara tampak tegang dan kaku, menjadi lebih relaks.


Gak harus yang gimana-gimana, yang penting jadi dirimu sendiri aja. Banyakin senyum (biasanya deg-degan bikin lupa senyum kan? wkwkwk).



Hmm jujurly kurang tau jumlahnya.

Tetapi saran aku, gak usah fokus terhadap berapa yang daftar dan siapa saingan kamu. Fokus sama diri kamu sendiri aja, belajar maksimal, penuhi persyaratan dengan maksimal. Karena setau aku, banyak atau sedikitnya pendaftar, tidak akan merubah rejeki kamu… Bismillah semangat ya! 🩷



Aku ramal.. Ade habis makan wortel atau labu ya? 

Kalau banyak biasanya bisa bikin tampak kuning di telapak tangan dan kaki. Selama gak ada tanda bahaya lain, gapapa. Aman 🤗 Kenalin sayur yang bervariasi warnanya ya, Ma. 


Banyak yang berkesan sampai bingung pilih yang mana.

Tapi karena fresh habis lewat Madya Perina,
melihat Mama Papa yang selalu datang ke NICU, 
berbicara dengan aku dengan mata yang berkaca-kaca,
menatap si ade di balik inkubator dengan mata yang penuh harapan, 
seakan menembus hingga belasan tahun ke depan,
so it’s Perina.


Sudah dijawab dengan pertanyaan yang sama diatas ya. Makasih banyak 🥰


Wkwkwkwk kak 😭🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Selama PPDS harus ikhlas beberapa hal harus di delegasikan.
Aku mending menggunakan porsi waktu mencuci baju itu untuk tidur. Hidup ini sudah susah kak, jangan dibuat tambah susah izin 🙏🏻🙏🏻 Laundry aja kak, lebih murah dibanding biaya tumbang akibat encok 🙏🏻


Pertanyaannya sama jadi aku gabung yah.

Lebih prefer Prodi A.

Karena apa? 

Percayalah, saat menjalani PPDS, semua alasanmu ingin menjadi PPDS tersebut, gugur kecuali satu hal: karena suka ilmunya.

Gak ada satupun alasan yang bisa buat kamu terjaga lebih dari 24 jam, capek yang tidak terdeskripsikan, selain karena kamu suka ilmunya.

Kenapa gak Prodi B yang work life balance terjamin? Karena kamu gak suka ilmunya.

Pilihan PPDS ini menentukan kehidupan kamu kedepannya. Yakin menjalani sisa waktu hidup ini mendalami ilmu yang gak kamu suka-suka amat, hanya karena gak mau jaga malam misalnya? 

Pilih prodi karena passion itu adalah real. You have to have that spark. Get excited about it. P.s itu juga yang bikin kamu semangat buat ikut seminar/simposium, bikin karya ilmiah. So apapun persyaratannya, kamu gak merasa beban mengerjakannya. 





post signature


Pengumuman

09.26

PENGUMUMAN PENGUMUMAN
Pulpen kuhilang!!!

Apakah ditelan awan
atau diambil teman
Masih jadi pertanyaan

Aku jadi krisis kepercayaan
Haruskah kuucapkan dengan lantang
atau kutulis dengan huruf besar

“MILIK AMALIA ASWIN”

Ah, tak usahlah
Apalah arti kepemilikan
Jika tak disertai keabadian

September, 2025

Cat Duco

06.00

"Cat duco! Cat duco!"
Walau menantang maut
Semua kendaraan harus kusambut

"Cat duco! Cat duco!"
Walau tak ada yang menyahut
Aku tak takut

"Cat duco! Cat duco!"
Akan kuulurkan tangan
Siapa tau mereka meminggirkan kendaraan

"Cat duco! Cat duco!"
Isi perutku
Tergantung usahaku


September, 2025

Medical Drama

02.12


Dulu, aku suka banget yang namanya nonton Medical Drama.
Sebutkan semua korean medical drama sebelum tahun 2019, aku nonton semua. 
Tapi setelah tahun 2019, which is aku koas, aku gak tertarik untuk nonton medical drama lagi. 
It's not fascinating anymore, lebih ke kayak... capek pulang-pulang justru nonton kehidupan yang sedang dijalani? Habis dari RS, pulang bukannya istirahat tapi malah nonton kehidupan dengan setting di RS.

Dan tebak, setelah selesai koas pun begitu. Ada medical drama yang hits bahkan hingga muncul season 2 nya, aku berhenti nonton di episode 1 karena terlalu melelahkan. Satu-satunya yang aku tonton adalah Doctor Cha; menarik bagiku karena ada orang yang tiba-tiba memutuskan untuk ingin menjadi dokter di usia yang tua. Selebihnya? Tidak.

Pada saat menjalani PPDS ini, aku gak tau mau nonton apa. 
Drama romance sangat tidak menarik bagiku, drama comedy udah aku tonton berulang-ulang. (Plis ada gak rekomendasi lagi selain Welcome to Waikiki 1 & 2 dan The Sound of Your Heart 1 & 2? Aku butuh drama yang begituan karena butuh hiburan yang bikin ketawa) Semua series barat yang aku suka juga sudah aku nonton berulang-ulang.

Hingga pada akhirnya, ada sebuah medical drama yang ngehitz banget. The Trauma Code. 
Awalnya aku tidak tertarik, tapi kata temanku, itu bagus. Aku yang sudah tidak punya hiburan ini akhirnya nonton. Dan tebak apa? Melihat kehidupanku di layar kaca ternyata menarik juga. Sangat relate, amat sangat relate. Ternyata aku tidak sendiri. Hahaha.

Sekarang, aku sedang mencoba menonton Hospital Playlist lagi. Sudah episode ke-6, ternyata seru. Bukan, bukan ceritanya yang seru... Tapi karena tokoh-tokoh yang ada di drama tersebut, aku bisa petakan seperti siapa dalam kehidupanku saat ini. Yang paling bikin aku tertawa adalah, ketika salah satu tokohnya yang seorang dokter bedah anak, menangis-nangis curhat ke saudaranya karena tidak bisa menyelamatkan pasien, hingga merasa tidak cocok menjadi seorang dokter karena empatinya terlalu tinggi. Curhatan tersebut berulang-ulang setiap tahunnya, sang kakak justru dengan santai menyeruput mie sambil bilang "Tahan 1 tahun lagi.." begitu seterusnya. Hahahaha. Justru ternyata medical drama itu adalah comedy untukku saat ini, tertawa miris sih sebenarnya, tapi bersyukur ternyata aku tidak sendiri, dan sangat merepresentasikan apa yang terjadi dalam kehidupan saat ini.

Andaikan kehidupan PPDS saat ini bisa divideo dan menjadi sebuah film.. Pasti seru...
Apakah aku harus membuat novel? Sepertinya menarik..

Mungkin nanti, ketika aku masuk surga, aku ingin membuat sebuah permintaan: Ya Allah tolong jadikan kehidupanku menjadi sebuah drama yang seru. Tanpa harus syuting, dengan aku sebagai pemeran utamanya dan klipnya diambil dari kehidupanku selama di dunia. 

Tentu saja dengan banyak permintaan lainnya... 


April, 2025





Bangku Tercantik

03.58

Pagi buta
kulewati jalan Salemba
jalanan masih gelap gulita
mataku menyala

Pintu lorong RS masih tertutup
lampu redup-redup
aku bergumam lemah
satu-satunya jalan melalui kamar jenazah
ah ya sudahlah

Kususuri jalan itu
tapi mataku terpaku
pada sebuah bangku
yang ada di samping kiriku

Bangku putih
bangku bersih
bangku tercantik se RS kataku

Lantas bulu kudukku berdiri
kepada siapakah bangku ini diperuntukkan?
sosok tak terlihat kah?

Setiap melewati bangku itu 
aku memalingkan pandangan
jaga-jaga sewaktu-waktu
terlihat bayangan

Ternyata..
Bangku cantik itu
tak menonjol pada siang hari
warna putih bersihnya dikalahkan dengan sinar matahari

Bangku cantik itu
untuk menghela napas setelah menerima kenyataan
untuk menghirup udara setelah letih menangis
untuk mengobati hati yang teriris

Bangku cantik itu
untuk menyambut dengan manis
orang-orang yang telah dengan ikhlas
merawat hingga ke garis finish.


April, 2025

Finding

03.24

"Mom, I'm losing myself"

I told my mom by the end of the month.

I lost it. 
Aku bahkan gak tau kenapa bisa demikian.

So I started to figure things out.

And it turns out...

Ternyata, selama menjalani residensi ini aku tidak melakukan hal yang sebenarnya paling aku sukai -dengan berkedok alasan sibuk dan ingin fokus belajar.

I found my self again after I went to Gramedia, buying books, and reading books. I told my mom that I want to start writing again because that's what I love the most. 

"Go on.." she said. "Do it because it lights your heart"

So here I am, writing at this moment, writing poems, and writing stories. 

In order to keep going, I need to do this.

P.S. I didn't realize that grocery shopping is also one of the things that makes me happy. Akan aku rutinkan hal tersebut. (It reminds me of my childhood). 



April, 2025