UN, Haruskah Ada?

06.44

Pelaksanaan UN SMA di tahun 2013 ini sangatlah kacau. Pencetakan dan pengiriman menjadi masalah terbesar dalam masalah ini. Mulai dari kertas yang buram dan mudah robek jika dihapus, hingga pengiriman soal yang nyasar ke kota lain. "Berkas rahasia" itu pun dikirim dengan cara "nyicil", seperti hutang yang dikirim paket demi paket dalam beberapa hari. Entah mengapa ini bisa terjadi, padahal pemerintah telah menyiapkan dana milyaran rupiah untuk pelaksanaan UN. Bagi saya yang tinggal di Kalimantan Timur, kejadian ini sungguh berdampak pada kondisi psikologis siswa, mereka yang sudah belajar mati-matian dan siap 100% harus siap menerima pernyataan yang diumumkan dari koran bahwa UN ditunda. Beberapa siswa sampai ada yang stress dan depresi.

Kejadian ini sangat disayangkan.

Tahun lalu, pemerintah sudah memiliki wacana untuk mengtiadakan UN di Indonesia. Namun sampai tahun ini, UN pun masih tetap dilaksanakan dan berakhir pada kehancuran. Saya berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali tentang pengtiadaan UN. Sebagai siswa, rasanya sungguh tidak adil jika pelajaran 3 tahun ditentukan dalam 4 hari. Beberapa siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan beberapa lainnya berusaha untuk mendapatkan bocoran jawaban. Pengawas yang seharusnya berperan dalam tindakan menyontek pun hanya berdiam diri, dengan belas kasihan berharap semua siswa lulus, itu saja. Bagaimanapun itu, UN lebih banyak memberikan dampak negatif kepada siswa. 

Sayangnya, saya lebih curiga bahwa pelaksanaan UN tetap diadakan karena banyak oknum yang rugi jika UN dihapuskan . Penjualan kunci jawaban terutama. Tanpa kita sadari, penjualan kunci jawaban bukan hal yang tabu lagi. Siswa yang tidak percaya diri rela mengeluarkan uang berjuta-juta untuk kunci jawaban yang belum tentu kebenarannya. 

Saya berharap pemerintah dapat memulai sistem pendidikan baru, yang tentunya lebih efisien, lebih hemat dan lebih jujur daripada UN. 

You Might Also Like

0 feedbacks ★