Satu bulan yang lalu, aku yang sedang jaga malam, tak sanggup menahan dinginnya RSCM, sehingga aku berniat untuk mengambil jaket di mobil.
Kuraih kunci yang ku selalu letakkan di tempat yang sama di tas, hanya dengan meraba-meraba seperti yang biasa kulakukan: tidak ada. Kubalikkan tas agar bisa melihat isi kantongnya: tidak ada.
Jantungku rasanya berhenti berdetak.
Aku adalah orang yang pelupa. Tapi selama ini, aku mengolah agar kekurangan itu teratasi. Selalu meletakkan di tempat yang sama, hingga menjadi kegiatan alam bawah sadar, yang walau mata terpejam, tubuhku otomatis melakukan itu.
Kulihat lagi, kubolak balik kantong tasku, tidak ada. Mungkin terselip di sisi tas ku yang lain. Kukeluarkan semua isi tas, kuraih kantong-kantong kecil. Tidak ada.
Ah, mungkin di tas jagaku,
atau di snelliku.
Nihil.
Kureka ulang kejadian pagi ini. Apa mungkin aku tak sadar bahwa tidak membawa mobil?
Tidak, nyata-nyata dalam memoriku, aku ingat memarkirkan mobil dan bergumam, “Nanti malam aku akan mengambil jaket ini.”
Aku kembali membongkar isi tasku, tas jagaku, meraba snelli, melakukan hal tersebut berulang-ulang yang sebenarnya aku yakin tidak akan menemukannya: murni karena aku yakin selalu meletakkannya di tempat yang sama: kantong tasku.
Muncul satu ketakutanku.
Kalau aku meninggalkan kunci dalam posisi tergantung di mobil, ada kemungkinan bukan hanya kunciku yang hilang, tapi semobil-mobilnya.
Langsung saja aku bangkit dan menuju tempat parkir. Bukan main deg-degannya aku selama 3 menit berjalan kaki. Walau berantakan, ku sayang sekali mobil titisan dari kakakku itu. Mobil yang menemaniku sejak putih abu-abu. Yang selama 6 bulan awal di Jakarta berpisah, sudah jalan ke berbagai showroom mobil, dikirim foto oleh Mamaku menawari mobil baru, ku hanya diam tak memberi keputusan apa-apa. Konon, Mamaku mengerti aku kangen mobilku, hingga diterbangkanlah (aslinya naik kapal) mobilku ini ke Jakarta. Senyum merekah saat bertemu kembali mobil kesayanganku, mobil yang jarang di cuci luarnya karena menyandang prinsip “apalah arti penampilan luar, yang penting dalamnya bersih” meski-dalamnya-tidak-bersih-juga, mobil yang “laki” karena saat aku mau mengecat mobil itu warna pink kakakku bilang “jangan, nanti diincar orang jahat”, mobil yang terpentuk sana-sini hingga menyisakan banyak goresan, mobil yang… ah sudahlah. Pada sepatu saja aku setia pakai 8 tahun hingga rusak, apalagi mobil.
Bukan main terkejutnya aku,
ternyata mobilku…
ada.
Alhamdulillah.
Hilanglah beban itu.
Sebuah keberuntungan memiliki kunci mobil yang remotenya rusak, siapapun yang meraihnya akan kesulitan untuk mencoba peruntungan.
Sekarang tinggal cari kuncinya.
Tapi dimana?
Kembali kutelusuri sepanjang jalan dari mobil ke gedung RS di tengah gelapnya malam, kunyalakan senter HP, melirik kesana kemari.
Nihil.
Kunci itu tak menunjukkan tanda keberadaannya. Memang agak sulit ditemukan di gelapnya malam, karena kunci itu warnanya hitam, sudah lepas dari dompetnya, remotenya rusak. Jika ada yang menemukan, mungkin mengira itu kunci motor.
Ya sudahlah.
Aku tak mau ambil pusing.
Aku mengulang-ngulang perkataan kakakku yang selalu diucapkan kepadaku selama ini, "Kalau rugi, rugi satu kali aja. Jangan rugi dua kali."
Sulit dimengerti ya?
Mari aku uraikan.
Saat masuk kedokteran, aku beberapa kali menelpon kakakku, menangis takut remedial karena merasa tidak bisa mengerjakan soal. Awalnya kakakku meladeni sedemikian rupa. Tapi lama-kelamaan polanya hampir sama. Aku menangis-nangis, kemudian tak ada kabar lagi, karena ternyata lulus. Dan kakakku hanya geleng-geleng kepala. Yang benar remedial di antara bisa periode menangis itu bisa dihitung jari. Hingga akhirnya, ketika menelpon untuk menangis lagi, kakakku bilang, "Kalau mau stress, stressnya satu kali saja pada saat kamu benar diumumkan remedial. Kalau kamu stress sekarang sementara nilainya belum keluar, berarti kamu stress dua kali. Untuk apa stress sekarang? Mending kamu senang-senang."
Itu yang menjadi peganganku saat ini.
Kalau rugi, rugi satu kali aja. Jangan rugi dua kali.
Hingga akhirnya, aku balik ke ruangan untuk jaga, bertemu dengan pasien-pasienku, sambil belajar dengan tenang. Aku menyampaikan kepada temanku dan perawat bahwa kunciku hilang, mereka melihat bagaimana aku membongkar tas, memastikan tidak tercecer di sekitar nurse station. Namun, karena tidak ketemu juga, aku duduk dan menjalani aktivitas kembali seperti biasa.
Aku bilang ke Mama dan Abah bahwa kunci mobilku hilang.
Seperti biasa, aku yang terlalu banyak nonton drama, sudah siap dengan balasan deretan omelan dari orangtuaku.
Yang rupanya hanya dibalas, "Coba istigfar, Nak, sambil mencari. InshaAllah ketemu." oleh Mamaku.
Dan dibalas, "Jadi bagaimana, Nak?" keesokan harinya oleh Abahku.
Entah kenapa, aku tidak khawatir.
Aku sedih tak menemukan kunci mobilku, tapi aku tidak khawatir.
"Akan kupikirkan besok," kataku dalam hati sambil memejamkan mata. Aku terlelap dalam waktu singkat, tanpa kegelisahan, melainkan tidur yang terasa amat nyenyak.
Aku kembali menjalani aktivitas menghitung pipis bayi, memperkirakan total cairan yang didapatkannya, tanpa pusing memikirkan kunci mobilku yang hilang. Sampai-sampai temanku berkata, "Untuk ukuran orang yang kunci mobilnya hilang, kamu tenang banget, Mel."
Lain hal dengan kakak perawat yang justru menceritakan kejadian horror, "Dok, dulu ada PPDS yang juga kayak dokter, di IGD pouchnya hilang yang isinya segala macam perintilan, termasuk kunci mobil dan STNK. Mobilnya beneran hilang, Dok." Yang membuat aku tertawa, karena alhamdulillahnya, mobilku masih ada, hanya kunci mobilnya yang hilang.
Saat berpisah selepas jaga, temanku Kanthi mengingatkan, "Mel, coba datengin satpam deh, siapa tau udah mereka amanin."
Aku yang awalnya pesimis untuk meminta bantuan, akhirnya mendatangi satpam RS.
Mungkin, bapak satpamnya kasihan melihat aku. Dokter yang mukanya sudah semrawut ini, harus kehilangan kunci mobil juga. Aku meninggalkan nomor HP. "Pak, tolong kalau ketemu, hubungi nomor saya ya, Pak."
Di tengah teriknya matahari, sekali lagi kutelusuri sepanjang jalan dari RS ke mobil. Yang hasilnya sama: nihil.
Apakah aku pulang naik gojek saja? Atau jalan kaki kembali ke apartemen?
Di saat ingin menyerah, aku melihat plang tiket parkir keluar dari jarak kejauhan.
Ah, aku ingat ada tombol bantuan disitu.
Langsung saja aku kembali berjalan menuju pintu keluar. Kutekan tombol "Help" berulang kali hingga akhirnya terdengar suara dari balik kotak oranye itu, "Ada yang bisa dibantu kak?"
Kusampaikan bahwa aku kehilangan kunci mobil, apakah mereka ada yang melihatnya. "Coba ke satpam pusat kak, lokasinya ada disamping indomaret, kakaknya lurus aja, disebelah kanan gedung."
Aku baru dengar ada yang namanya satpam pusat alias bagian keamanan pusat. Dengar langkah biasa, yang tidak optimis, juga tidak pesimis, yang penuh harapan juga tidak berharap, kalau ada Alhamdulillah, kalau tidak ya sudah akan aku cari ke tempat lain, aku berjalan ke tempat itu.
"Permisi pak, saya Amel, PPDS. Ijin pak, saya kehilangan kunci, Pak."
Bapak satpam yang ada sekitar 4 orang itu, pergi ke ruangan dibaliknya dan kembali dengan setumpuk kunci. Sepertinya aku bukan orang pertama yang mereka temui karena kehilangan kunci.
"Mbaknya kehilangan kunci motor, ya?" Saking memelasnya mukaku.
Ditunjukkan satu keranjang yang berisi kumpulan kunci.
Namun, karena perlu visualisasi yang lebih jelas, aku berkata, "Pak, ijin saya lihat ya, Pak"
Bukan main kagetnya aku.
Kunci mobilku ada.
Persis disitu.
Diantara kunci motor itu.
Jika bapak satpam itu perempuan, sudah pastilah aku peluk.
"Alhamdulillah Pak, ini kunci mobil saya Pak.... Ya Allah Pak... terima kasih, Pak."
"Ini saya harus bagaimana, Pak, untuk membuktikan ini kuncinya saya, Pak?"
"Ya Allah Pak... terima kasih, Pak."
Lega.
Terharu.
Bersyukur.
"Hmmm..." bapak-bapak itu tampak berpikir. Entah apakah masih ragu itu kunci mobil atau kunci mobil. "Nanti tunjukkan STNKnya saja."
Mungkin saking tingginya jam terbang melihat orang kehilangan kunci, mereka sudah dapat membedakan bohong dan tidaknya seseorang terkait kepemilikan kendaraan.
"Siap, Pak. Terima kasih banyak, Pak."
Aku pergi, membawa kunci mobilku.
Alhamdulillah tak terkira.
Satu hal yang kusyukuri, aku tidak rugi dua kali.
Aku tidak stress karena kehilangan kunci ini. Aku bahkan tidak rugi sama sekali karena kuncinya tidak benar- benar hilang.
Kembali aku ke RS mengambil tas. Senyum merekah di pipiku, mengabarkan kepada teman dan kakak perawat bahwa kunciku sudah ketemu. Kukabari Kanthi, memang kadang, pencerahan itu datangnya dari celetukan teman kita sendiri.
Kusadari bahwa kelalaian dalam menghilangkan kunci adalah salahku.
Namun, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan diriku sendiri. Karena sejujurnya, pada hari aku kehilangan kunci mobil ini, aku sedang menjalani ujian yang cukup sulit. Mulutku tidak berucap, langkah kaki dan semangatku seperti biasa, tapi tak dapat dipungkiri, karena fokus terhadap materi, ternyata otakku konslet pada hal-hal yang sebelumnya fundamental.
Kejadian kunci mobil hilang ini tak sempat aku umumkan di seluruh grup.
Sudah kutemukan barangnya kurang dari 24 jam.
Terhadap barang-barang lainnya, aku umumkan di grup.
Walau begitu, pendekatannya selalu dengan prinsip yang sama, kalau rugi, rugi satu kali aja. Jangan rugi dua kali.
Dan ternyata, barang itu kembali.
Bahkan tidak pernah hilang.
Karena aku yakin.
Seyakin-yakinnya kepada Allah.
Jika itu masih rejekiku, akan kembali kepadaku.
15 Juli 2026