Momen Tersulit

07.52

Memasuki tahun ke-3 sebagai PPDS Anak, ada hal yang begitu ingin aku ungkapkan, tetapi hingga saat ini masih butuh waktu untuk menguraikannya. 

Hal yang selama ini mengganjal di tenggorokanku. Yang hingga saat ini tidak bisa kuceritakan dengan luwes kepada teman-teman, bahkan orangtuaku. 

Dulu, jika ada yang bertanya “Apa momen tersulitmu selama PPDS?” aku perlu berpikir keras untuk mengingat-ngingat, karena selama ini, yang kulalui itu “berat,” bukan “sulit.”

Stase A itu berat. Stase B itu berat. Adaptasi di hari pertama stase itu berat. Namun, hal berat itu masih bisa dipikul, entah itu melaluinya bersama teman-teman, atau berusaha semaksimal mungkin, sehingga yang berat menjadi terasa ringan.

Tapi sulit? 

Sulit diperuntukkan untuk hal yang tidak bisa diuraikan. Rumit. Seperti tali layangan yang kusut, dan kita diminta untuk menguraikannya.

Seperti orang yang disleksia diminta untuk membaca. Sulit. 

Dan ini adalah momen tersulitku…


Pada hari itu, aku bertugas di bangsal bayi baru lahir sebagai Jaga Utama Emergensi. 

Jika ada ibu yang mau melahirkan, aku lah orang yang akan menyambut kehadiran bayi tersebut di dunia setelah dokter obgyn. Itu berarti, aku yang bertanggung jawab terhadap kestabilannya setelah lahir. Airway, Breathing, Circulation. Dan sebagai seorang Madya Jaga Utama, dalam satu tim resusitasi tersebut, aku adalah leadernya. 

“Mba, tolong dengar detak jantungnya, ya. Mba, tolong langsung nyalakan timer, pasang saturasi, dan pasang probe suhu.” Begitu aku membagi tim sebagai pemimpin resusitasi, ada yang bertanggung jawab terhadap circulation dan equipment. 

Sementara aku, bertanggung jawab terhadap airway dan breathing. Apapun yang terjadi, tangan dan mataku tidak akan pernah lepas dari wajah dan dada bayi untuk memastikan dia bernapas dengan baik.

Dan itu sudah kulakukan berpuluh-puluh kali selama berada di stase tersebut.

Malam itu, HP ku di telpon oleh PPDS Obgyn. “Dok, ada pasien mau SC BTP sekarang.”

Aku mengiyakan, “Dengan apa dok? Tolong kirim ketikannya ya, dok.”

Seperti biasa yang aku lakukan, agar mengetahui detail terkait faktor risiko ibu, bayi, dan persalinan, sehingga bisa mempersiapkan tim dan peralatan yang lengkap. 

Aku tertegun ketika PPDS Obgyn tersebut menjawab, “Pasien sedang di RJP dok, tadi DJJ bayi masih ada.” Kemudian melihat kiriman foto situasi di IGD, dokter yang sedang memompa jantung seorang ibu dengan perut yang buncit. Dia hamil, jantungnya berhenti. Anaknya harus diselamatkan secepat mungkin.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung loncat dari tempat dudukku, menelpon seluruh tim jaga pada hari itu, termasuk dokter yang sedang mengambil sub spesialis bayi baru lahir atau Sp2. Kami berangkat secepat kilat dengan kereta Pajero -sebutan untuk inkubator transport dengan ventilator yang kami miliki.

Selama aku hidup, aku tidak pernah berlari secepat itu dengan membawa kereta segede gaban. Mengarungi perjalanan dari RSCM Kiara ke IGD. Bertarung dengan waktu. Dalam perjalanan yang singkat tersebut, HPku masih diserbu chat dan telpon oleh PPDS Obgyn yang menanyakan keberadaanku dan timku.

Dengan napas yang tersengal-sengal, aku sampai di IGD. Bukan main kagetnya aku, IGD sudah berubah secepat kilat menjadi ruang operasi. Jika kalian membayangkan ruang operasi yang ada di IGD, tentu saja salah besar. Ini adalah ruang IGD, tepat disamping triase, yang tiba-tiba menjadi steril, penuh dengan kain biru, peralatan bedah sesar, dan dokter-dokter obgyn yang sedang melakukan sayatan pada perut pasien. 

Begitu melihat aku, perawat langsung berseru, “Dokter anaknya sudah datang!”

Tim medis yang berada di ruang itu menoleh kepadaku dengan penuh harapan.

Dalam waktu yang begitu amat singkat, infant warmer sudah siap di ruang tersebut, dan bayi lahir. 

Seperti biasa, bayi tersebut kusambut. Aku sudah bersiap dengan segala kemungkinan kesulitan napas yang dihadapi oleh bayi tersebut. 

Tapi, dia tidak seperti bayi yang hidup.

Mataku tidak pernah beranjak dari wajah dan dada bayi ketika menyambutnya lahir di dunia. Namun, kali ini aku memalingkan wajah kepada dokter Sp2.

“Dok…” 

Aku mendengar dengan stetoskop.

Jantungku berdegup kencang, tapi aku tidak mendengar detak jantungnya.

Kami bersama-sama memeriksa tanda kematian pada bayi, yang ternyata sudah ada pada bayi tersebut. Seketika kakiku rasanya kehilangan keseimbangan. Otakku freeze. Aku tau apa yang harus kulakukan jika pasien tersebut kesulitan bernapas atau detak jantungnya lemah. Sekecil apapun bayi tersebut, aku siap. Tapi ini? Tidak ada dalam algoritma resusitasi. Tidak ada pelajaran apa yang harus dilakukan jika menyambut bayi yang sudah tidak bernyawa. 

Tanganku yang sudah terbiasa siap untuk memberi bantuan napas untuk bayi, ditahan oleh dokter yang lebih senior. 

Kita tidak memberikan oksigen kepada bayi yang sudah jelas tanda kematiannya, katanya.

Aku terdiam sejenak. Salah satu timku mengatakan kepada tim medis lain bahwa bayi lahir dalam kondisi sudah meninggal, stillbirth.

Aku kembali melihat bayi tersebut dan melihat alat bantuan napas yang kupegang. Masih sulit mempercayai bahwa tidak ada yang bisa aku lakukan.

“Dok, ini beneran gak di VTP sampai intubasi?”

Bahkan, berulang kali aku mengkonfirmasi kepada seniorku. Aku berkali-kali memastikan, ini beneran begini saja? Menerima anak lahir meninggal, dan tidak ada yang bisa kita lakukan?

Selama ini kita selalu berusaha maksimal, kenapa sekarang tidak berusaha? Setidaknya ada usaha yang dilakukan untuk menghidupkan kembali bayi itu.

Seketika aku terdiam dalam kata-kataku.

Bayi itu tidak pernah hidup.

Dia hidup di dalam kandungan, mati di dalam kandungan.

Siapa aku yang mau menghidupkan bayi tersebut?

Detik itu aku menyadari bahwa aku hanyalah….seorang dokter.

Aku bukan Tuhan.

Aku tidak bisa menghidupkan yang mati. 

Setelah mendengar kata-kata yang disampaikan oleh seniorku, aku kembali kepada kesadaranku. Yang harus lakukan, menyampaikan kondisi bayi kepada Ayahnya.

Sang Ayah tiba, dan aku menyampaikan berita buruk tersebut. 

“Papa, saya dokter Amel, dokter dari bagian anak.” 

Aku menelan ludah.

Kusampaikan pelan-pelan kondisi Mama bayi itu… yang sedang meregang nyawa.. dan kondisi bayi yang rentan akibat jantung Mamanya yang terhenti… Hingga bayi di dalam kandungan tidak terselamatkan. 

“Papa,” ingin sekali ku pegang pundak Ayah itu saat mengatakan ini, “Mohon maaf ade lahir sudah dalam kondisi meninggal.”

Kubawa sang ayah untuk melihat bayi yang masih dibawah infant warmer. Bayi yang merupakan pertama, yang ditunggu-tunggu selama ini, yang parunya tidak pernah menghirup udara oksigen di dunia.

Katanya laki-laki malu untuk meneteskan air mata di depan banyak orang, tapi saat itu aku melihat sang Ayah menangis.  

Aku segera keluar dari ruangan tersebut, memberi waktu untuk sang Ayah dan untuk diriku. Tanpa kusadari, mataku merah dan sudah meneteskan air mata. Sejujurnya ada kata yang ingin kusampaikan, tapi tidak kuucapkan, “Ayah, maaf, saya sangat amat ingin menyelamatkan ade, tapi ternyata saya sebagai dokter punya batas kemampuan…saya bukan Tuhan.” 

Selama ini aku selalu diajarkan oleh guru-guruku untuk bertindak cepat dan tepat untuk pasien. Selalu diajarkan untuk berusaha maksimal, hingga titik penghabisan. Jika hasilnya tidak sesuai, itu karena hal yang diluar dalam kendali kita sebagai manusia. Kita sudah melakukan yang terbaik dari yang kita bisa kendalikan, selebihnya, seperti respon pasien terhadap terapi yang kita berikan, adalah ketentuan Allah. 

Sehingga ketika dihadapkan kasus seperti ini, aku begitu syok.

Aku tidak melakukan usaha sama sekali. 

Aku tidak terbiasa. 

Pulang dari IGD, aku kembali berjalan ke bangsal. Denyut jantungku yang sudah mulai normal, kembali berdegup kencang ketika mengingat suatu hal.

Aku memanggil “Papa” kepada orang yang tidak pernah menjadi seorang Ayah.




26 Juli 2026
post signature

You Might Also Like

0 feedbacks ★