Consistency

06.04

Aku berpikir keras tentang konsistensi setelah makan siang di foodcourt bersama teman kelompok staseku, dimana salah satu diantara mereka berceletuk, 

“Amel, kamu selalu pesan kwetiau dimanapun, ya.” 

Setelah itu, kami membahas terkait kwetiau. Aku mengenalkan bahwa ada 3 gerai yang menjual kwetiau disini yang bisa kamu sesuaikan dengan kebutuhanmu. Kalau kamu butuh porsi banyak dan banyak lauk, pesanlah kwetiau dari gerai A. Kalau kamu butuh yang enak dan mau menyisakan ruangan di lambungmu untuk makanan lain, pesanlah dari gerai B. Kalau kamu mau bentuk kwetiau yang unik, pesanlah dari gerai C. 

Ya walaupun aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasa makanan dengan baik (kebetulan lidahku hanya bisa membedakan mana enak dan tidak), temanku sepertinya cukup kagum dengan keahlianku dalam konsisten memesan kwetiau ini. 

Sebenarnya, tidak sekali dua kali aku mendengar celetukan seperti itu saat makan. 
Pun tidak sekali dua kali mendengar celetukan itu terhadap hal lain selain makanan. 

Seperti, “Amel, kamu selalu konsisten pink, ya, dari dari atas sampai bawah.” 

Atau yang tak terlihat. 

Seperti cita-cita menjadi dokter anak. 

Dulu, kupikir perihal konsisten dalam diriku, hanyalah terhadap mimpi. Cita-citaku menjadi dokter anak itu sudah ada semenjak aku TK. Kata mamaku, setelah aku bisa berbicara, jika ditanya cita-cita, aku mengatakan ingin menjadi dokter. Setelah menginjak bangku TK dan kerap melihat dokter spesialis anak yang sering kudatangi, cita-citaku bertambah 2 kata: dokter anak. 

Kalau orang ada fase hilang arah terkait cita-cita selama hidupnya, aku juga pernah mengalami itu, tetapi polanya selalu begini: 
“Dokter Anak dan Astronaut” 
“Dokter Anak dan Presiden” 
“Dokter Anak dan Komikus” 

Dokter anaknya selalu konsisten, hahaha. 
Hingga saat ini menjadi PPDS Anak. (Semoga umur panjang, 2 tahun lagi tercapai) 

Konsisten ini kadang hanya aku yang menyadari. 

Seperti menggunakan sepatu yang sama selama 8 tahun. 
Hingga sol sepatu depannya terbuka, tidak bisa diselamatkan, dan Mamaku terkejut ketika aku menyampaikan sepatu itu aku gunakan sejak tahun 2016, yang juga baru kusadari sudah 8 tahun. 

Either it’s consistency, atau simply aku nyaman dengan keadaan. 
Sulit dibedakan. 

Namun satu hal yang membuat aku yakin ini adalah konsisten. 

Terhadap hal-hal yang fundamental, aku selalu memiliki prinsip bahwa: 
Kalau iya, iya. 
Kalau engga, engga. 

Namun sayangnya, sikap konsisten ini terbawa sampai kehidupan percintaan. 
Kalau iya, iya. 
Kalau engga, engga. 

Atau mungkin kehidupan satu ini tidak fundamental sehingga ada tempat untuk bingung?



September, 2026

post signature