We never value a moment until it is left.
Masih jelas diingatanku waktu-waktu pertama masuk aksel kita habiskan waktu bersama dengan menonton film, dengan itu kita menjalin keakraban. Juragan film yang laptopnya sering digunakan untuk menonton film, siapa lagi kalau bukan Yosia. Hahahaha.. Saat jam pelajaran kosong, maka bioskop pun dimulai. Pintu kelas ditutup, lampu dimatikan, dan sip, film pun diputar menggunakan LCD. Film-film itu mulai dari kartun, komedi, sampai yang horror. Yah seperti Final Destination, The Hunger Games, Paranormal Activity, dan film-film lain yang aku lupa judulnya tapi tetap saja kunikmati menontonnya. Sampai-sampai kakak kelas di sebelah, datang ke kelas kita buat nonton juga (saking ributnya kita nonton, hahaha). Dari semuanya, yang paling berkesan menurutku adalah film The Ring. Kita bener-bener nonton dari awal sampai habis. Film horror yang kocak itu membuat kita tertawa terbahak-bahak. Padahal bagian Ibu yang dikejar sama Tsamara didalam sumur itu bagian paling menegangkan, tapi kita malah ketawa. Hahahaha. Pokoknya seru deh kebersamaannya.
Ada lagi permainan yang sering kita mainkan selama di gedung lama. UNO. Permainan yang baru kuketahui cara bermainnya selama bersama kalian. Kadang kita main permainan itu sampai 2/3 kelas dengan membuat lingkaran yang gede. Selain itu, kita juga sering bermain Truth or Dare dibelakang kelas. Yah... permainan ini menjadi kesempatan memaksa orang untuk mengungkapkan perasaannya. Aku sering jadi sasaran waktu itu, dilempar dengan pertanyaan bertubi-tubi tentang perasaan hati. Hahahaha masa lalu...
Di gedung lama ini juga menjadi saksi mata semua dari kita menyanyikan lagu di depan kelas. Guru seni budaya kelas aksel pada saat itu adalah Bu Say (aku gak bisa mastiin tulisannya Bu Say atau Bu Sai). Aku menyanyikan lagunya Derby Romero - Tuhan Tolong. Alhamdulillah aku ada videonya kalian semua hahaha. Intinya, dari praktek menyanyi itu, ada yang suaranya bagus banget, biasa aja, fales (hahaha), gagal, malu-malu, suaranya yang enggak kedengaran, sampai ada yang nangis.
Praktek seni budaya bukan cuma itu. Sehabis menyanyi, kita disuruh praktek bikin pola menari dan menari tradisional dengan gerakan sendiri. Yang kuingat saat praktek itu, aku pernah merekam video bersama teman-temanku, dan aku menyuarakan "Katakan Tidak Pada Reynaldi, Katakan Tidak Pada Reynaldi" dengan kedua tanganku membuat bentuk silang, saat orang yang kusuarakan tepat disampingku. Hahahaha. Hai.
Satu lagi pelajaran yang berkesan, matematika trigonometri. Tak terhitung sudah berapa lembar yang kuhabiskan untuk menghapal rumus-rumus trigonometri itu. Saat Bu Dewi menerangkan, ada yang sampai bersila tepat didepan papan tulis untuk mencoba mengerti. Andaikan dulu saat pelajaran trigonometri itu adalah aku sekarang. Rumus trigonometri sudah luar kepala... Kalau sudah kelas 3, mungkin kalian akan mengatakan hal yang sama.
Tak lama setelah itu, kita ujian kenaikan kelas 2. Semester 1 kelas 2 hanya kita tempuh selama 4 bulan. Setelah itu kita ujian semester 3. Itu adalah ujian terakhir kita sebanyak 26 orang sekelas saat ujian berlangsung.
Dengan begitu berakhirlah tahun ajaran 2012/2013, kita meninggalkan gedung lama. Belajar di tempat itu untuk yang terakhir kalinya. Tempat itu sekarang sudah tidak ada, gedung yang telah berdiri sejak 59 tahun yang lalu itu hilang, rata dengan tanah. Tapi yang selama ini kutahu, memori yang telah terjadi di gedung bersejarah selama 1 tahun itu tidak pernah hilang sampai detik ini.
Kebingungan kita tentang angkatan. Kita ini sebenarnya angkatan berapa? 59 atau 58? Atau 58 setengah? Ketika kita memakai jaket angkatan 58 berwarna abu-abu itu ke sekolah, dan ditatapi oleh anak kelas 3 dengan tatapan yang sedikit aneh... Masih ingat?














