Started from Jakarta at 00:00. Penerbangan dari Jakarta ke Doha itu memakan waktu 9 jam, untungnya pramugari pesawat Qatar Air kali ini ramah semua. Aku menghabiskan waktu di pesawat dengan membaca buku, nonton, dan tentunya tidur. FYI, kamu harus mengatur waktu tidur sebaik-baiknya di pesawat agar tidak jetlag masalah tidur di tempat tujuan.
Sesampainya di Doha, kami menunggu selama 3 jam untuk melanjutkan perjalanan ke Berlin. Untuk ke Berlin, kami menggunakan pesawat Qatar Air juga, namun ukurannya lebih kecil daripada pesawat sebelumnya. To arrive at the destination, it spent 6 hours. Kali ini, aku membaca buku kumpulan soal olimpiade fisika yang diberikan Pak Didik. Di sebelahku ada orang Jerman, dia cerita pernah kuliah di salah satu universitas di Berlin di jurusan arts. Aku juga bilang kalau suatu hari ingin kuliah di Jerman untuk kuliah kedokteran. And he said, that's good.
Berlin
Selepas dari bandara, kami langsung menuju hotel untuk mengganti pakaian. It was 4 degrees celcius, you cannot stand with an ordinary clothes & ordinary shoes! We met Uncle Joe, a really nice driver from Hungaria. He is way to amazing, it seems like he knows everything. We also met Kak Dennis, our tour leader from Jakarta. He is so nice to everyone!
Bus bergerak menuju lokasi ITB Berlin (Indonesia Tourism Börse) yang diselenggarakan di ICC. ITB Berlin itu adalah pameran wisata terbesar di dunia, ada 180 negara yang berpartisipasi pada tahun 2013 ini.
It feels so amazing to know that some people really wanted our necklace and bracelet so bad (the one that made by manik-manik). Sampai-sampai ada seorang laki-laki yang bilang "I want the necklace, i want to give the necklace to my wife"
You woke up at midday and take a bath, felt like it was a morning. You felt hungry and eat at midnight, pretend that it was a dinner. You felt the sun is still shining. When the reality, it was not.
The way that i cannot sleep at midnight, its not an Insomnia or everything that you called a disease at night. Its actually, an effect of...
Man, i got jet lag.
I felt weird. My parents said that it was night already and i really need to slept, i was like "I perfectly sure that the sun is out there and brighten my window right now." I couldn't sleep well, just roll on the bed and read a book. It is weird. Yes, it is weird. Really weird.
I didn't get jet lag when i arrived at Europe because i had already control the time when i have to sleep or not. And i could handle it. But when i got back to Jakarta, i got mess up and forget every schedule that i've already planned. Thats because the new series of comic that i bought on a market near to airport (i couldn't go to be early). Ugh. I hate it.
Sincerely,
4 days isn't enough to recover jet lag.
Aku lega.
Lepaslah sudah bebanku ini...
Beban yang terus terpikirkan oleh otak dan hati.
2 Juni 2012. Pengumuman kelulusan, di sore hari. Aku datang terlambat ke sekolah, teman-teman sudah berkumpul di aula dan segala penghargaan untuk lulusan terbaik sudah diberikan. Aku sampai saat mereka berhamburan, membuka masing-masing mapnya yang berisi nilai UAN.
Ketika aku membuka map yang berwarna coklat itu, kutemukan sebuah kertas... Yang berisi banyak nilai.
Sejenak, aku bingung dimana letak NEMnya. Sampai kulihat sebuah angka yang ditebali, 35,35.
Alhamdulillah. Aku menyalami tangan Abah dan langsung memeluknya, air mataku jatuh, tak terpendamkan lagi. UAN, hal ini yang selalu kupikirkan. Tak percaya... Aku mendapat nilai seperti ini... Hasil kerja kerasku, begadang belajar setiap malam...
Kecemasanku berakhir sudah...
Setelah Abah, aku memeluk Mama dengan tersedu-sedu...
Pak Joko, kepala sekolah, yang ada didekat situ melihat nilaiku. "Nilainya bagus" seperti itulah katanya.
Guru IPS, yang sampai sekarang aku tak tahu namanya, karena teman-teman memanggil 'Bunda', menghampiriku. Aku berterima kasih kepadanya, sambil menangis.
Rasanya, masih tak percaya...
Waktu itu, sehari sebelum UAN, asam lambungku naik dan muntah-muntah. Sementara besok aku harus mengikuti ujian itu... Mama menawarkanku untuk ikut ujian susulan, tapi aku menggeleng. Aku ingin berjuang melawan perang ini bersama teman-temanku pada hari yang sama.
Dalam doa, aku memohon kepada Allah agar memberikanku kemudahan saat mengerjakan soal ujian esok... Tunjukkan jawaban yang benar kepadaku, iring tanganku kepada jawaban yang benar Ya Allah...
Esoknya, aku mengerjakan UAN dengan lancar... Bahasa Indonesia... Inilah yang paling susah diantara pelajaran yang lain, karena harus mengerjakannya dengan sangat teliti... Tapi aku malah sangat yakin dengan jawabanku. Subhanallah... Atas kemudahan Allah...
Di tengah pelaksanaan ujian, aku makan Tango vanilla yang kutaruh di kolong meja. Bukan apa-apa, itu karena Pak Rusdi, dokterku, menyuruhku untuk makan... diisi perut walaupun satu biskuit, setiap jam...
Hari-hari berikutnya aku mengerjakan soal dengan sangat optimis...
Alhasil, aku mendapat nilai 9,20 untuk Bahasa Indonesia, 8,40 untuk Matematika, 8,75 untuk Bahasa Inggris , dan 9,00 untuk IPA.
Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah...
Semuanya berkatmu...
Tanpamu... Apalah diriku yang tidak berdaya ini... Yang pada saat itu sedang sakit dan mengerjakan ujian nasional... Tanpa bantuanmu... Tidak akan kudapat nilai seperti ini...
Mungkin Thomas Alva Edison bilang kalau keberhasilan itu 1% bakat dan 99% usaha.
Tapi dia lupa satu hal.......... Doa.
She was just a girl,
A lonely soul of eleven.
She was an average kid,
The fifth sibling among seven.
Neither here nor there,
With no thoughts or friends to call her own,
She was, in the world of raging lions,
A weak and stumbling fawn.
Never on the top,
Nor even in the bottom,
She never stood out,
She was like a fallen leaf in autumn.
Neither eyes nor lips
Ever spoke a word.
Unnoticed and uncared for,
She was lost in the herd.
Not a giggle, not a smile
Escaped her pink lips.
Her tears were wipes by none
But her own tiny fingertips.
Lost and insecure, oh what
She must have gone through every day!
A girl of just eleven
What more can i say?
A child is a believing creature
With a mind as brittle as pure gold
"A loser" and "a failure,"
That's what she was told.
She accepted it always,
With her head held like a broken bow.
And she became the girl who couldn't
Only 'cause they told her so.
~Sneha Pillai
Someone is putting cigarettes on the leaf in Green Forest. In 5 minutes, forest fires is happen. Jane across the road and she sees the forest is on fire. So she takes so much water to the bucket and throw the water to the forest. But she can't help it.
Suddenly, she have an idea to call a firetruck. In 3 minutes, they come to Green Forest because the driver drives the firetruck very fast. And suddenly, firemans come up and throw so much water to the forest in all sides.
In 30 minutes, there's no fire anymore. But the forest which make oxygen for humans is destroyed. Inside of all, the firemans are the heroes. They stoped the fire so that the fire doesn't spread to the cities.
(This is my first English short story. I made it at EF and the teacher give me 'very good :)' for the score. So rather than i throw this story to rubbish when i wasted my 7 minutes to write, i put this on my blog)


